IHSG dan Rupiah Terus Menanjak, Dua Risiko dari AS Mengancam

Okin
IHSG dan Rupiah Terus Menanjak, Dua Risiko dari AS Mengancam (Foto: Unsplash/Anne Nygård)
IHSG dan Rupiah Terus Menanjak, Dua Risiko dari AS Mengancam (Foto: Unsplash/Anne Nygård)
A-AA+A++

Pasar keuangan Indonesia mencatat pergerakan yang cukup dinamis pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah sama-sama menunjukkan penguatan, meski di sisi lain imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) justru terus mengalami kenaikan.

IHSG melanjutkan tren positif dari beberapa hari sebelumnya dengan kenaikan signifikan sebesar 2,71% atau sekitar 155 poin, sehingga ditutup di level 5.902,37. Sepanjang sesi perdagangan, mayoritas saham bergerak di zona hijau dengan 571 saham menguat, 148 saham melemah, dan 96 lainnya stagnan.

Aktivitas pasar juga terbilang ramai, dengan volume transaksi mencapai 46,67 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp31,73 triliun, serta frekuensi perdagangan menyentuh 3,1 juta kali.

Sektor perbankan menjadi motor utama penguatan IHSG, dengan saham-saham seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Mandiri (BMRI) mendominasi transaksi. Selain itu, saham Chandra Asri Pacific (TPIA) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) juga tercatat aktif diperdagangkan.

Baca juga: IHSG Koreksi Mendekati 5% di Awal Perdagangan, Pasar Masih Tertekan

Meski indeks menguat, pasar masih mencatat adanya arus keluar dana asing (net foreign outflow) sebesar Rp3,13 triliun.

Namun demikian, kinerja IHSG tetap menjadi yang terbaik di kawasan Asia-Pasifik pada Rabu, 10 Juni 2026, mengungguli sebagian besar bursa utama yang justru melemah, seperti Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, hingga China.

Dari sisi teknikal, lonjakan IHSG mencerminkan aksi bargain hunting serta membaiknya sentimen pasar terhadap berbagai kebijakan yang diambil pemangku kepentingan. Hampir seluruh sektor mengalami penguatan, dengan sektor infrastruktur memimpin kenaikan sebesar 4,22%, diikuti sektor energi 3,9% dan finansial 3,21%.

Baca Juga:  PDB Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen, Dampaknya ke Daya Beli Masyarakat

Penguatan IHSG juga ditopang oleh kontribusi sejumlah saham besar. BBCA menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 46,84 poin indeks, diikuti Telkom Indonesia (TLKM) sebesar 19,84 poin.

Sementara itu, tiga bank BUMN yakni BBRI, BMRI, dan BBNI memberikan tambahan sekitar 35 poin indeks secara kumulatif, didorong oleh sentimen positif terkait opsi buyback.

Diprediksi IHSG akan menguji level psikologis di level 6000 dengan support terdekat di level 5800 pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026. Namun perlu diwaspadai adanya aksi profit taking karena adanya sentimen negatif yang berasal dari luar Indonesia.

Baca Juga: Pasar Saham Terkoreksi Setelah BI Naikkan Suku Bunga 50 Basis Poin

Di pasar valuta asing, rupiah turut menguat 0,55% ke level Rp17.950 per dolar AS, berhasil kembali ke bawah level psikologis Rp18.000. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat dibuka lebih kuat di Rp17.875 sebelum kembali menyentuh Rp18.000, lalu menguat lagi hingga penutupan.

Penguatan rupiah ini sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun tipis 0,03% ke level 99,882. Selain itu, kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% juga menjadi faktor pendukung stabilisasi nilai tukar.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyebut langkah tersebut sebagai upaya pre-emptive untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah. Kebijakan ini juga ditujukan untuk menjaga inflasi tetap berada dalam target 2,5±1% pada 2026 hingga 2027.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun terus meningkat, mencerminkan dinamika pasar yang masih dipengaruhi faktor eksternal. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah data penting seperti penjualan ritel Indonesia, kebijakan suku bunga Uni Eropa, serta data inflasi Amerika Serikat.

Baca Juga:  IHSG Koreksi Mendekati 5% di Awal Perdagangan, Pasar Masih Tertekan

Di sisi global, tekanan juga datang dari Wall Street yang mengalami pelemahan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran. Kondisi ini berpotensi menjadi risiko yang dapat memengaruhi arah pasar keuangan Indonesia jika terus berlanjut.(***)