Penjualan Furnitur Bekas di Manggarai Merosot Akibat Ketidakpastian Ekonomi

Febriolla
A-AA+A++

Pedagang mebel di Manggarai Jakarta Selatan menghadapi kesulitan bisnis yang serius di tengah ketidakpastian ekonomi nasional. Penurunan daya beli masyarakat menjadi faktor utama yang mendorong pedagang untuk mengurangi operasional dan tenaga kerja. Kondisi ini sangat terasa di kawasan Jalan Dr. Saharjo, Manggarai, di mana sejumlah toko mebel mengalami penjualan yang lesu. Kunjungan langsung ke lokasi pada pertengahan Juli 2026 menunjukkan bahwa pegawai toko furnitur masih aktif bekerja meski dalam jumlah terbatas.

Pegawai di toko-toko ini melakukan berbagai pekerjaan mulai dari mengangkut dan merapikan barang dagangan, memberikan informasi kepada calon pembeli, hingga melakukan pengecekan dan perbaikan furnitur yang rusak. Efisiensi tenaga kerja ini merupakan respons langsung atas permintaan pasar yang melemah. Mayoritas pekerja mebel menjalani pekerjaan dengan multitasking. Situasi ini berkaitan erat dengan penurunan penjualan furnitur beberapa waktu terakhir, sehingga sejumlah toko melakukan efisiensi operasional.

Abdul, salah satu pedagang mebel di lokasi tersebut, menjelaskan bahwa omzetnya turun drastis dibanding periode sebelumnya. Ia menyebutkan penjualan hanya mencapai sekitar 50 persen dari biasanya. Bahkan dalam sehari, tidak selalu ada transaksi penjualan. Produk unggulannya mencakup kursi kantoran berkualitas tinggi yang dijual dengan harga berkisar Rp 750 ribu hingga Rp 1,25 juta per unit. Untuk kursi kantoran standar, harga diturunkan ke kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 450 ribu per kursi. Abdul juga menawarkan kursi untuk keperluan kafe dan kampus dengan harga Rp 250 ribu per kursi, meski produk ini hanya ramai dijual pada musim tahun ajaran baru.

Tantangan penjualan yang berkelanjutan memaksa Abdul untuk mengurangi jumlah karyawan. Sebelumnya, tokonya memiliki enam orang pegawai, namun kini hanya tersisa dua orang. Untuk kompensasi, toko memberikan dua pilihan skema gaji: mingguan dengan upah sekitar Rp 1,05 juta, atau harian dengan upah Rp 150 ribu per orang. Persaingan dari platform e-commerce juga turut memperkeruh situasi. Calon pembeli semakin tertarik berbelanja online karena harga lebih murah dan akses ke produk baru lebih luas. Meski demikian, Abdul tetap yakin ada segmen konsumen yang memilih membeli langsung di toko untuk melihat kondisi barang secara fisik dan mendapatkan garansi resmi.

Baca Juga:  Purbaya Yakin Tarik Investor China untuk Panda Bonds

Sementara itu, Angga, pedagang furnitur bekas lainnya di kawasan yang sama, mengonfirmasi bahwa tren penjualan memang sangat tidak menentu. Meski begitu, ia tetap berupaya menyediakan produk berkualitas. Kursi paling murah di tokonya dibanderol seharga Rp 200 ribu dan tersedia dalam berbagai merek. Produk dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien korporat atau kantor. Angga menerangkan bahwa barang impor yang ia miliki memiliki variasi kualitas yang berbeda-beda. Saat ini, Angga menjalankan bisnis hanya didampingi oleh dirinya sendiri sebagai pemilik toko tanpa karyawan tambahan.

Sandi, penjual furnitur bekas ketiga di lokasi yang sama, memiliki strategi unik dalam menjalankan usahanya. Ia secara aktif memasarkan furnitur bekas yang diperoleh dari kantor-kantor yang sudah tidak beroperasi atau tidak lagi membutuhkan perlengkapan tersebut. Setiap barang yang masuk ke toko Sandi melalui proses pemeriksaan menyeluruh. Jika ada kerusakan, barang langsung diperbaiki atau direkondisi agar berfungsi normal kembali. Komponen kain pada furnitur pun tidak jarang diganti dengan bahan baru. Proses ini sepenuhnya dilakukan oleh Sandi sendiri, yang membuatnya percaya diri memberikan garansi lebih panjang dibanding pesaing. Garansi yang ditawarkan adalah tiga bulan sejak tanggal pembelian.

Meskipun menghadapi persaingan ketat dengan toko online dan platform digital, ketiga pedagang ini masih berupaya tetap bertahan. Mereka mengandalkan kepercayaan konsumen terhadap kualitas barang, layanan perbaikan, dan jaminan garansi yang sulit didapat dari belanja online. Namun, tanpa peningkatan daya beli masyarakat, prospek bisnis mereka tetap tidak pasti.

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *