Pasar keuangan Indonesia menutup minggu lalu dengan faktor penentu IHSG dan rupiah yang terus berkembang. Indeks Harga Saham Gabungan menguat 2,28% atau 131,22 poin mencapai level 5.875,78 pada akhir perdagangan Jumat (3/7/2026).
Meski demikian, perhitungan mingguan masih menunjukkan penurunan sebesar 0,35%, melanjutkan tekanan yang berlangsung selama dua minggu terakhir. Penguatan pada akhir pekan ini ditopang kuat oleh saham-saham dengan kapitalisasi besar, khususnya perbankan dan industri komoditas.
Seluruh sektor bursa berhasil menguat pada penutupan perdagangan. Sektor utilitas memimpin dengan kenaikan 3,61%, diikuti sektor bahan baku naik 3,39% dan teknologi meningkat 2,46%.
Kontribusi terbesar datang dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
Transaksi mencapai 18,2 miliar saham dalam nilai Rp10,5 triliun, sementara kapitalisasi pasar naik menjadi Rp10.287 triliun. Penguatan difasilitasi oleh investor asing yang mencatat beli bersih Rp 6,04 miliar.
Rupiah juga melakukan pemulihan pada akhir pekan setelah tiga hari tekanan berturut-turut. Nilai tukar rupiah menguat 0,24% ke level Rp17.945/US$ pada Jumat.
Namun secara mingguan, mata uang Garuda masih tertinggal dengan pelemahan 0,22%. Dolar Amerika terus mempertahankan tekanan kuat pada rupiah, dengan nilai tukar masih berada di dekat level psikologis Rp18.000/US$. Imbal hasil obligasi pemerintah tetap stabil di 7,153%.
Pasar saham global ditutup beragam minggu lalu. Bursa Eropa mencatatkan penguatan yang luas dengan indeks Stoxx 600 naik 0,69% mencapai level tertinggi dalam 52 minggu.
Penguatan keempat minggu berturut-turut ini didorong pencarian aset defensif di sektor utilitas yang meningkat 1,78%. Pergerakan positif tercatat di indeks utama Eropa seperti DAX Jerman naik 0,85%, FTSE MIB Italia meningkat 0,77%, CAC 40 Prancis naik 0,48%, dan FTSE 100 Inggris bertambah 0,19%.
Di Asia, bursa Jepang memimpin reli dengan Nikkei 225 naik 1,47% dan Topix meningkat 1,17%. Indeks Kospi Korea Selatan meloncat 5,76%, meski Kosdaq melemah 1,68%. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 1,37%, Hang Seng Hong Kong menguat 1,28%, CSI 300 China meningkat 1,15%, dan Taiex Taiwan bertambah 0,2%.
Wall Street tutup pada Jumat karena libur Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Pada perdagangan Kamis (3/7), Dow Jones Industrial Average mencatat rekor penutupan tertinggi mencapai 52.900,07 dengan kenaikan 1,14%.
Penguatan dipicu laporan ketenagakerjaan Juni yang lebih lemah dari ekspektasi, meningkatkan harapan bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. S&P 500 naik kurang dari 1 poin ke 7.483,24. Nasdaq turun 0,8% ke 25.832,67 karena pelemahan saham semikonduktor pada hari kedua berturut-turut.
Minggu ini, pasar akan memantau sejumlah data ekonomi penting yang akan menjadi faktor penentu pergerakan IHSG dan rupiah ke depan. Dari Amerika Serikat, fokus tertuju pada ISM Services PMI Agustus dan risalah rapat Federal Reserve yang akan memberikan indikasi arah kebijakan moneter.
Dari dalam negeri, perhatian utama pada cadangan devisa, tingkat kepercayaan konsumen, dan survei penjualan eceran Bank Indonesia yang mengukur ketahanan konsumsi domestik.
Baca juga: IHSG dan Rupiah Berbalik Naik Hadapi Tekanan Ekonomi Amerika
Pada Minggu (5/7/2026), OPEC+ sepakat menaikkan target produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari mulai Agustus. Keputusan ini menambah pasokan global dan akan mempengaruhi harga minyak dunia sebagai salah satu faktor penentu kinerja pasar keuangan Indonesia.
Keputusan OPEC+ akan terus dipantau investor mengingat dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan bank sentral global.(***)








Tidak ada Respon