-Advertisement-

Pasar Saham Terkoreksi Setelah BI Naikkan Suku Bunga 50 Basis Poin

Okin
Pasar Saham Terkoreksi Setelah BI Naikkan Suku Bunga 50 Basis Poin
A-AA+A++

Indeks Harga Saham Gabungan mengalami koreksi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan pada perdagangan Kamis (21/5/2026).

Pasar saham Indonesia melemah -3,54% atau turun 223,56 poin, mencapai level 6.094,94 pada penutupan bursa pukul 16.00 WIB. Pergerakan negatif terjadi meski indeks sempat menyentuh puncak di 6.378,81 di awal sesi sebelum investor bereaksi atas keputusan otoritas moneter.

Selama perdagangan berlangsung tercatat volume transaksi mencapai 33 milyar saham dalam 2,1 juta kali transaksi, dengan nilai transaksi terkumpul Rp16 triliun. Skala perdagangan menunjukkan partisipasi investor yang tetap aktif meskipun pada kondisi bearish.

Penyebab utama penjualan di pasar adalah keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia periode 19-20 Mei 2026. Otoritas moneter memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

Bersamaan dengan itu, Deposit Facility dinaikkan menjadi 4,25% dan Lending Facility menjadi 6,00%. Langkah ini menjadi respons terhadap berbagai tantangan ekonomi global yang sedang berlangsung dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan rasional di balik keputusan kenaikan suku bunga ini. Peningkatan suku bunga ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah mengingat meningkatnya tekanan eksternal akibat konflik Timur Tengah.

Selain itu, langkah ini dimaksudkan untuk memastikan inflasi tetap berada dalam target yang ditetapkan bank sentral. Perry menekankan bahwa putusan berbasis asesmen menyeluruh terhadap kondisi ekonomi global dan berbagai risiko yang diidentifikasi.

Perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan fiskal yang diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada hari yang sama (20/5/2026) di Gedung DPR Jakarta. Pemerintah menetapkan target defisit fiskal untuk APBN 2027 dalam kisaran 1,8%-2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Baca Juga:  Harga Emas Antam Jumat 8 Mei 2026 Turun Tipis, Cek Rincian Terbarunya

Anggaran belanja negara dirancang untuk berada di 13,62%-14,8% PDB dengan pendapatan negara dioptimalkan pada 11,82%-12,40% PDB.

Prabowo menekankan komitmen pemerintah untuk terus menekan dan memperkecil defisit anggaran agar tercapai postur fiskal yang sehat.

Keputusan tersebut menjadi fondasi dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Pemerintah juga menetapkan kerangka ekonomi makro dengan berbagai asumsi penting untuk tahun mendatang.

Dalam hal asumsi makroekonomi 2027, pemerintah menargetkan rupiah berada di kisaran Rp16.800-Rp17.500 per dolar Amerika Serikat. Target ini diperhatikan pasar karena diumumkan saat mata uang lokal menghadapi tekanan signifikan terhadap greenback.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, pemerintah menargetkan pertumbuhan dalam rentang 5,8%-6,5% pada 2027. Laju inflasi diproyeksikan tetap terkendali dalam kisaran 1,5%-3,5%.

Pelaku pasar terus memantau perkembangan kebijakan moneter global, khususnya keputusan dan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dari The Fed.

Langkah Bank Sentral Amerika akan menjadi panduan bagi arah suku bunga Amerika Serikat ke depan dan berdampak pada aliran modal global serta perilaku investor di pasar lokal.