RAKYATPRESS.COM – Harga pangan di tingkat nasional masih dianggap berisiko oleh Bank Indonesia. Dalam konferensi pers keputusan BI Rate pada 22 Juli 2026, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa tekanan volatile food inflation masih memerlukan perhatian khusus.
Fenomena ini berkontribusi signifikan terhadap inflasi nasional secara keseluruhan dan membutuhkan respons terkoordinasi dari berbagai lembaga pemerintah.
Perry menjabarkan bahwa inflasi terdiri atas tiga komponen utama yang perlu dipahami. Pertama adalah inflasi utama yang mencerminkan kondisi ekonomi dasar. Kedua adalah inflasi inti atau core inflation yang menunjukkan tekanan harga yang lebih fundamental.
Ketiga adalah volatile food inflation yang bergejolak dan sulit diprediksi. Untuk komponen ketiga ini, faktor penyebabnya mencakup kenaikan harga barang-barang secara keseluruhan serta tekanan dari inflasi yang diimpor dari luar negeri.
Meski volatilitas harga pangan merupakan tantangan yang cukup berat, BI telah menyiapkan strategi pengendalian yang komprehensif. Bank sentral tersebut menjalin sinergi intensif dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan melibatkan 46 kantor perwakilan BI yang tersebar di seluruh nusantara.
Kolaborasi multi-level ini dilaksanakan dalam kerangka tim khusus pengendalian inflasi guna memastikan efektivitas pelaksanaan di lapangan.
Upaya koordinasi tersebut berwujud konkret dalam Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera atau GPIPS. Melalui program ini, BI bersama pemerintah daerah bersinergi untuk mengendalikan gejolak harga pangan agar tetap stabil di pasaran.
Keterlibatan 46 kantor perwakilan BI menunjukkan komitmen untuk menjangkau setiap wilayah geografis di Indonesia.
Perry mengungkapkan target spesifik yang ingin dicapai melalui sinergi ini. BI menargetkan inflasi konsisten di bawah tiga persen ke depannya sebagai indikator kesuksesan. Target kisaran inflasi ditetapkan pada 2,5 persen plus minus satu persen.
Adapun untuk inflasi utama ditambah dengan volatile food inflation, proyeksi BI adalah tetap berada di bawah 3,3 persen, menunjukkan optimisme pihak bank sentral terhadap efektivitas langkah-langkah yang diambil.
Keyakinan BI bahwa berbagai faktor inflasi dapat terkendali didasarkan pada upaya antisipasi komprehensif yang telah dirancang dan dilaksanakan.
Dengan melibatkan berbagai tingkat pemerintahan mulai dari pusat hingga daerah, serta jangkauan geografis yang luas melalui kantor perwakilan yang tersebar, BI berupaya memastikan stabilitas harga pangan di seluruh wilayah Indonesia.
Pendekatan koordinasi lintas institusi ini mencerminkan pengakuan bahwa pengendalian inflasi pangan memerlukan keterlibatan lebih dari satu lembaga.(***)








Tidak ada Respon