Cadangan Devisa Indonesia Turun US$11 Miliar, BI Yakinkan Masih Aman

Febriolla
Cadangan Devisa Indonesia Turun US$11 Miliar (Foto: unsplash/Anne Nygård)
Cadangan Devisa Indonesia Turun US$11 Miliar (Foto: unsplash/Anne Nygård)
A-AA+A++

Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan penurunan cadangan devisa Indonesia yang terjadi selama enam bulan pertama tahun 2026.

Posisi cadangan devisa telah mencapai US$145 miliar pada akhir Juni 2026, merosot dari rekor tertingginya yakni US$156,5 miliar yang dicatat pada akhir Desember 2025. Penurunan ini berarti devisa asing Indonesia berkurang sebesar US$11 miliar dalam kurun waktu tersebut.

Menurut Destry, penurunan cadangan devisa ini disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar internasional. Selanjutnya, pelunasan kewajiban utang luar negeri yang menjadi beban pemerintah.

Dana pemerintah tersimpan dalam sistem perbankan di Bank Indonesia, sehingga penarikan untuk pembayaran utang berdampak langsung pada posisi cadangan devisa nasional.

Melalui konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan pada Senin 3 Agustus 2026, Destry menegaskan bahwa level US$145 miliar masih berada dalam kategori aman.

Meskipun telah mengalami penurunan signifikan, posisi cadangan devisa saat ini tetap mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri yang menjadi kewajiban negara.

Destry menyatakan bahwa angka tersebut masih relatif aman mengingat peranannya dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Tolok ukur keamanan cadangan devisa yang digunakan oleh Bank Indonesia merujuk pada standar internasional.

Secara umum, benchmark global menetapkan bahwa cadangan devisa yang aman adalah jumlah yang mampu menutupi kebutuhan impor selama tiga bulan ke depan ditambah dengan pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.

Dengan posisi cadangan devisa US$145 miliar saat ini, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan impor selama 5,4 kali periode tiga bulan, jauh melampaui batas minimum internasional tersebut.

Baca Juga:  Pabrik Plastik Mulai Kurangi Jam Kerja Hadapi Impor Murah dan Naiknya Harga Gas

Penurunan cadangan devisa ini mencerminkan tekanan yang dihadapi ekonomi Indonesia dalam menjaga keseimbangan eksternal. Namun demikian, Bank Indonesia mempertahankan keyakinannya bahwa buffer finansial yang tersedia masih cukup untuk mengamankan stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar rupiah.

Destry menekankan bahwa posisi US$145 miliar memungkinkan pemerintah untuk terus memenuhi kewajiban pembayaran internasional tanpa mengganggu likuiditas sistem perbankan dan kepercayaan investor terhadap rupiah.

Bank Indonesia terus memantau dinamika cadangan devisa sebagai bagian dari tugas menjaga stabilitas sistem keuangan. Dengan tingkat coverage yang masih mencapai 5,4 kali kebutuhan impor tiga bulan, Indonesia tetap berada dalam posisi yang lebih aman dibanding standar internasional minimum.

Hal ini memberikan fleksibilitas bagi otoritas moneter dalam menjalani kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi sambil tetap menjaga ketahanan finansial eksternal negara.(***)