Pertumbuhan QRIS dan Daya Beli Masyarakat

Okin
Pertumbuhan QRIS dan Daya Beli Masyarakat (Foto: blog.bankmega.com)
Pertumbuhan QRIS dan Daya Beli Masyarakat (Foto: blog.bankmega.com)
A-AA+A++

Pertumbuhan QRIS daya beli masyarakat menjadi pertanyaan penting ketika melihat kontras data ekonomi terkini. Notifikasi “ting!” dari transaksi QRIS kini menjadi bunyi familiar di kehidupan sehari-hari.

Suara itu terdengar di warung makan, kedai kopi, toko kelontong, tempat parkir, dan usaha rumahan. Meski berlangsung sebentar, ketika dikumpulkan, jutaan notifikasi itu menceritakan perubahan besar dalam ekonomi Indonesia.

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan transaksi QRIS pada triwulan II 2026 mencapai 100,12% secara tahunan. Volume transaksi pembayaran digital keseluruhan mencapai 16,07 miliar transaksi dengan pertumbuhan 36,88%.

Momentum ini terus berlanjut pada Juli 2026 dengan pertumbuhan QRIS 82,42% tahunan, didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.

Angka-angka tersebut terlihat mengesankan di permukaan. QRIS tumbuh tiga digit, ekonomi digital semakin berkembang, dan transaksi masyarakat semakin memudah. Namun perlu diletakkan berdampingan dengan data lain.

Pada triwulan yang sama, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5,06% tahunan, sementara perekonomian Indonesia secara keseluruhan tumbuh 5,29% dengan produk domestik bruto mencapai Rp6.552,1 triliun.

Pertanyaan muncul: ketika QRIS tumbuh 100% namun konsumsi rumah tangga hanya 5%, apa yang sebenarnya sedang tumbuh? Jawabannya tidak semudah “daya beli masyarakat melonjak”.

QRIS adalah saluran pembayaran, bukan ukuran langsung daya beli. Pertumbuhannya dapat didorong oleh bertambahnya merchant yang menerima pembayaran digital, meningkatnya jumlah pengguna, dan perpindahan masyarakat dari uang tunai ke QRIS.

Lonjakan transaksi QRIS tidak dapat diterjemahkan satu banding satu sebagai kenaikan konsumsi nyata.

Bayangkan seseorang yang tahun lalu membayar makan Rp100.000 secara tunai, kemudian tahun ini membayar jumlah sama melalui QRIS. Secara ekonomi, ia belum tentu lebih kaya. Yang berubah hanya jejak pembayaran: dulu uang berpindah tangan, kini data ikut berpindah.

Baca Juga:  Airlangga: Risiko Resesi Indonesia Hanya Lebih dari 5%, Jauh Lebih Aman dari AS

Digitalisasi sebagian besar tidak menciptakan transaksi baru. Lebih sering hanya memindahkan transaksi dari bentuk yang sulit terlihat menjadi bentuk yang meninggalkan jejak digital. Namun QRIS tetap berguna sebagai indikator ekonomi.

Bank Indonesia menilai konsumsi rumah tangga pada triwulan II masih terjaga, antara lain didorong stimulus pemerintah seperti bantuan pangan, potongan tarif transportasi, serta program magang dan pelatihan vokasi.

Akan tetapi, konsumsi yang berjalan dan daya beli yang sehat bukanlah hal yang sepenuhnya identik. Tiga orang sama-sama membayar Rp500.000 melalui QRIS namun dengan sumber berbeda.

Orang pertama menggunakan pendapatan baru yang diterima, orang kedua menggunakan tabungan, dan orang ketiga menggunakan fasilitas kredit melalui instrumen pembayaran.

Bagi merchant, ketiganya sama: Rp500.000 masuk. Namun kondisi keuangan rumah tangga berbeda. Orang pertama menggunakan pendapatan, orang kedua menggunakan kekayaan terdahulu, dan orang ketiga menarik kemampuan bayar masa depan.

Di sini terletak persoalan dalam membaca daya beli: angka transaksi menunjukkan keputusan membeli, namun tidak selalu menunjukkan sumber daya yang memungkinkan keputusan itu.

Penggunaan tabungan atau kredit bukanlah hal buruk. Tabungan memang untuk digunakan, dan kredit membantu mengatur arus kas. Masalah muncul ketika nilai transaksi saja digunakan menyimpulkan kesejahteraan masyarakat otomatis meningkat. Data inflasi perlu ditempatkan dalam cerita yang sama.

Badan Pusat Statistik mencatat pada Agustus 2026 terjadi inflasi 0,21% bulanan. Inflasi tahunan pada periode yang sama mencapai 3,19% year-over-year. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun transaksi meningkat dalam nilai nominal, daya beli sebenarnya perlu dianalisis lebih dalam dengan mempertimbangkan efek harga.(***)

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *