Pemerintah berencana meluncurkan insentif kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) mulai Juni 2026. Kebijakan ini disiapkan sebagai bagian dari strategi nasional untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), mengurangi impor energi, serta mempercepat transisi menuju kendaraan ramah lingkungan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa insentif akan diberikan untuk mobil listrik maupun sepeda motor listrik. Program ini ditargetkan menjangkau masing-masing 100 ribu unit mobil listrik dan 100 ribu unit motor listrik pada tahun ini.
Menurut pemerintah, peningkatan penggunaan kendaraan listrik diharapkan dapat mengubah pola konsumsi energi masyarakat dari BBM menuju listrik. Dengan begitu, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah dan BBM bisa ditekan secara bertahap.
Motor Listrik Berpotensi Dapat Subsidi Rp5 Juta
Dalam skema yang sedang disiapkan, sepeda motor listrik diperkirakan akan memperoleh bantuan sebesar Rp5 juta per unit. Nilai tersebut dinilai cukup menarik untuk mendorong masyarakat beralih dari motor berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik.
Selain subsidi pembelian unit baru, pemerintah juga menaruh perhatian pada program konversi motor bensin menjadi motor listrik. Target jangka panjang yang disiapkan cukup besar, yakni konversi hingga 120 juta sepeda motor konvensional sebagai bagian dari transformasi energi nasional.
Program konversi ini dipandang lebih ekonomis dibanding membeli unit baru, sekaligus mampu mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Mobil Listrik Dapat Insentif Pajak
Sementara untuk mobil listrik, pemerintah menyiapkan skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 40 persen hingga 100 persen.
Namun, fasilitas ini hanya berlaku bagi kendaraan listrik murni berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Kendaraan hybrid dipastikan tidak termasuk dalam penerima insentif tersebut.
Besaran insentif nantinya akan disesuaikan dengan jenis baterai yang digunakan. Mobil listrik dengan baterai berbasis nikel diperkirakan akan menerima subsidi lebih besar dibanding baterai non-nikel.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong hilirisasi nikel, mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen nikel terbesar di dunia.
Pengamat Usul Kuota Motor Listrik Lebih Besar
Pengamat industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, menilai porsi insentif kendaraan listrik sebaiknya lebih besar dialokasikan untuk motor listrik dibanding mobil listrik.
Menurutnya, pengguna sepeda motor di Indonesia mayoritas berasal dari kelompok menengah ke bawah dan masih banyak menggunakan BBM subsidi. Karena itu, subsidi motor listrik dianggap lebih tepat sasaran.
Selain membantu masyarakat, peningkatan penggunaan motor listrik juga berpotensi menekan konsumsi BBM nasional lebih cepat karena jumlah sepeda motor di Indonesia jauh lebih banyak dibanding mobil pribadi.
Agus juga menambahkan, kendaraan listrik yang sudah dirakit di dalam negeri layak mendapat insentif lebih besar agar industri otomotif nasional ikut berkembang.
Dorong Industri dan Kurangi Beban Subsidi Energi
Kebijakan insentif kendaraan listrik tidak hanya berfokus pada lingkungan, tetapi juga ekonomi. Pemerintah berharap penggunaan EV dapat menekan beban subsidi energi, terutama saat harga minyak dunia sedang tinggi.
Jika implementasi berjalan lancar, program ini berpotensi menciptakan efek ganda berupa peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan industri baterai nasional.
Baca berita selengkapnya hanya di RakyatPress, portal informasi terbaru dengan update cepat dan terpercaya.
FAQ
Kapan insentif kendaraan listrik mulai berlaku?
Pemerintah menargetkan program dimulai pada Juni 2026.
Berapa subsidi motor listrik?
Motor listrik diperkirakan mendapat insentif Rp5 juta per unit.
Apakah mobil hybrid mendapat insentif?
Tidak. Insentif hanya untuk mobil listrik murni berbasis baterai.
Berapa kuota kendaraan listrik yang disiapkan?
Masing-masing 100 ribu mobil listrik dan 100 ribu motor listrik.
Apa tujuan insentif kendaraan listrik?
Mengurangi konsumsi BBM, menekan impor energi, dan mendorong transisi energi bersih.








Tidak ada Respon