Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat pagi, 8 Mei 2026. Di pasar spot, rupiah dibuka di level Rp17.369 per dolar AS, turun dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di Rp17.333 per dolar AS.
Pelemahan tersebut menunjukkan tekanan lanjutan setelah sehari sebelumnya rupiah sempat menguat cukup signifikan. Jika dihitung dari posisi terakhir, mata uang Garuda terkoreksi sekitar 0,21 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan rupiah kali ini sejalan dengan tren mayoritas mata uang Asia yang juga mengalami tekanan terhadap greenback. Kondisi tersebut mengindikasikan penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar regional.
Sempat Menguat pada Perdagangan Sebelumnya
Sebelum kembali tertekan, rupiah sempat mencatat penguatan pada Kamis, 7 Mei 2026. Saat itu kurs rupiah naik 54 poin atau sekitar 0,31 persen dan ditutup di level Rp17.333 per dolar AS.
Pada hari yang sama, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke posisi Rp17.362 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.405 per dolar AS.
Penguatan sementara tersebut terjadi setelah pasar merespons sentimen positif domestik. Namun tekanan eksternal kembali mendominasi sehingga rupiah berbalik melemah pada sesi berikutnya.
Mata Uang Asia Banyak Terkoreksi
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mencatat pelemahan terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penurunan terdalam setelah merosot 0,56 persen. Ringgit Malaysia ikut turun 0,17 persen, disusul peso Filipina yang melemah 0,11 persen.
Yuan China juga turun sekitar 0,04 persen terhadap dolar AS. Sementara yen Jepang bergerak tipis di kisaran 0,006 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan pelaku pasar masih cenderung memburu aset berbasis dolar AS di tengah ketidakpastian global.
Mata Uang yang Masih Menguat
Di tengah dominasi pelemahan, beberapa mata uang Asia masih mampu menguat terhadap dolar AS.
Baht Thailand dan dolar Hong Kong tercatat naik masing-masing 0,04 persen. Dolar Singapura ikut menguat 0,02 persen, sedangkan dolar Taiwan naik tipis 0,01 persen.
Meski penguatannya terbatas, pergerakan ini menunjukkan respons pasar di tiap negara masih dipengaruhi faktor domestik masing-masing.
Faktor yang Menekan Rupiah
Pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi beberapa faktor utama, antara lain:
- Penguatan indeks dolar AS global
- Arus modal asing yang berhati-hati
- Sentimen suku bunga Amerika Serikat
- Ketidakpastian ekonomi global
- Fluktuasi harga komoditas dunia
Jika tekanan eksternal terus berlanjut, rupiah berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek.
Prospek Rupiah Selanjutnya
Pelaku pasar kini menantikan langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi pasar, penguatan cadangan devisa, dan sentimen data ekonomi domestik akan menjadi penopang penting bagi rupiah ke depan.
Meski sedang tertekan, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif solid masih menjadi modal utama menjaga kepercayaan investor.
Baca berita selengkapnya hanya di RakyatPress, portal informasi terbaru dengan update cepat dan terpercaya.
FAQ
- Berapa kurs rupiah hari ini?
Rupiah dibuka di level Rp17.369 per dolar AS. - Apakah rupiah naik atau turun?
Rupiah melemah dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.333 per dolar AS. - Mengapa rupiah melemah?
Dipengaruhi oleh penguatan dolar AS dan pelemahan mayoritas mata uang Asia. - Mata uang Asia mana yang paling lemah?
Korea Selatan menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,56 persen. - Apakah rupiah masih bisa menguat?
Masih berpeluang menguat tergantung sentimen global dan kebijakan Bank Indonesia.







Tidak ada Respon