Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia berada dalam kondisi kuat dengan fondasi yang solid saat memberikan kuliah umum di Nankai University, Tianjin, China.
Acara tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan kampus, termasuk Presiden Chen Yulu, Wakil Rektor Eksekutif Chen Jun, Wakil Rektor Sheng Bin, serta ratusan mahasiswa.
Dalam forum akademik itu, ia menegaskan bahwa perekonomian Indonesia saat ini berada pada posisi yang kuat berkat pengelolaan fiskal yang disiplin dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah berhasil menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah batas 3% sesuai ketentuan undang-undang. Capaian ini memberikan ruang bagi APBN untuk tetap fleksibel dalam menjaga stabilitas ekonomi, terutama di tengah ketidakpastian global.
Dengan pengelolaan fiskal yang ketat, pemerintah memiliki instrumen yang cukup untuk meredam tekanan eksternal jika sewaktu-waktu terjadi gejolak pasar.
Dari sisi kinerja, ekonomi Indonesia menunjukkan performa positif pada kuartal pertama 2026 dengan pertumbuhan PDB sebesar 5,61% secara tahunan. Angka ini bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 maupun ASEAN.
Di sisi lain, inflasi juga tetap terkendali di level 3,08% hingga Mei 2026, yang menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas harga. Kondisi ini turut memperkuat kepercayaan pelaku pasar terhadap ekonomi nasional.
Sejumlah indikator lain juga memperlihatkan tren yang menggembirakan. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur berada di level 50,0 yang menandakan sektor industri masih berada dalam fase ekspansi. Pertumbuhan uang primer tercatat naik 14,8% secara tahunan, mencerminkan likuiditas ekonomi yang tetap sehat.
Sektor perbankan pun menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan kredit mencapai 11,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sektor perdagangan luar negeri, Indonesia berhasil mencatat surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut.
Cadangan devisa juga tetap kuat di posisi USD 144,9 miliar, cukup untuk membiayai 5,6 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kondisi ini memperlihatkan ketahanan eksternal ekonomi yang solid.
Dari sisi energi, pemerintah menilai Indonesia memiliki tingkat ketahanan yang cukup baik terhadap risiko gangguan pasokan global. Skor ketahanan energi nasional mencapai 77%, sedikit lebih tinggi dibanding Tiongkok yang berada di angka 76%, dan mendekati Afrika Selatan dengan 79%.
Dampak pertumbuhan ekonomi juga mulai terasa di masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi berhasil menciptakan sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru, yang turut menurunkan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,68% pada 2026.
Sementara itu, program perlindungan sosial pemerintah ikut mendorong penurunan angka kemiskinan dari 8,57% pada September 2024 menjadi 8,25% pada September 2025.
Purbaya juga memaparkan delapan kelompok program prioritas nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini dirancang untuk memastikan pembangunan tidak hanya bersifat makro, tetapi juga berdampak langsung ke masyarakat.
Fokusnya mencakup penguatan ketahanan nasional melalui kedaulatan pangan, energi dan air, serta pengembangan sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perumahan, hingga ketangguhan dalam menghadapi bencana.(****)








Tidak ada Respon