IHSG Koreksi Mendekati 5% di Awal Perdagangan, Pasar Masih Tertekan

Okin
IHSG melemah 1,12% - Layar digital menampilkan grafik IHSG turun dengan warna merah, simbol tekanan pasar saham Indonesia
A-AA+A++

IHSG melemah 1,12% dan dibuka pada level yang tertekan di awal perdagangan Kamis pagi (4/6/2026) hingga pukul 10.32 WIB. Indeks Harga Saham Gabungan membuka sesi di 5.919,57 namun tekanan penjualan segera mendorong indeks lebih jauh turun hingga mencapai 5.736,74. Penurunan tersebut setara dengan 204,33 poin sebesar -3,44% dan masih bergerak fluktuatif hingga saat ini.

Pergerakan pasar pagi ini menunjukkan volatilitas tinggi dengan sentimen negatif mendominasi perdagangan. IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 5.924,51 sebelum akhirnya terpuruk ke posisi terendah 5.644,23 yang mana mendekati koreksi 5%.

Aktivitas perdagangan pagi mencatat nilai transaksi Rp9,23 triliun dengan volume 169,43 juta saham yang berpindah tangan dalam 996,60 ribu transaksi hingga pukul 10.32 WIB dan masih melanjutkan trend jual hingga artikel ini diterbitkan.

Konteks penurunan hari ini menjadi kelanjutan dari kerugian signifikan sesi sebelumnya. Pada Rabu (3/6/2026), IHSG tutup merosot 4,11% ke level 5.941,07. Investor asing mencatat penjualan bersih hampir Rp1 triliun, dengan sekitar 75% saham berakhir di zona merah. Dominasi tekanan jual dari investor asing tersebut menjadi salah satu pemicu utama penurunan tajam pasar.

Beberapa faktor eksternal diperkirakan terus memberikan tekanan pada pasar lokal. Penurunan indeks Wall Street, kenaikan harga minyak mentah, penguatan dolar Amerika Serikat, dan ketahanan ekonomi AS yang masih kuat diidentifikasi sebagai risiko pasar yang berkelanjutan.

Regional Asia menunjukkan pola serupa dengan volatilitas tinggi di berbagai bursa utama. Indeks Kospi Korea Selatan turun 2% saat pembukaan kembali setelah libur, meski indeks Kosdaq yang berisi saham berkapitalisasi kecil justru naik lebih dari 2%.

Di Jepang, Nikkei 225 mengalami koreksi 1,4% setelah mencapai rekor tertinggi sebelumnya. Indeks Topix juga melemah 0,91% didorong oleh aksi ambil untung investor di tengah meningkatnya ketidakpastian.

Baca Juga:  Suku Bunga Deposito BBCA, BMRI, BBNI, BBRI Mei 2026 Pasca Rilis PDB Q1

Bursa Australia mencatatkan indeks S&P/ASX 200 turun 0,84%. Kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 25.312, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 25.633,21.

Pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk menegaskan kekuatan fundamental ekonomi di tengah gejolak pasar. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan perwakilan lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) Global pada Rabu (3/6/2026) di Jakarta. Kim Eng Tan, Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik, memimpin delegasi S&P dalam pertemuan tersebut.

Diskusi berfokus pada prospek dan ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi berbagai risiko global. Airlangga menekankan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap solid meskipun menghadapi tantangan eksternal termasuk ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, dan gangguan rantai pasokan global.

Airlangga mendeskripsikan pertemuan sebagai momentum penting untuk mengonfirmasi ketahanan ekonomi di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Hal ini karena stabilitas ekonomi Indonesia didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang terukur, konsumsi domestik yang kuat, dan perbaikan kinerja sektor eksternal.

Airlangga menyatakan bahwa indikator utama masih menunjukkan tren positif dengan inflasi tetap terkendali, investasi terus tumbuh positif, dan program hilirisasi industri mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional.(***)