-Advertisement-

Menkeu Bantah Daya Beli Turun, IMF Catat Seychelles Justru Alami Pelemahan PPP

Zulfa F
A-AA+A++

Pemerintah menegaskan kondisi daya beli masyarakat Indonesia masih terjaga di tengah munculnya isu perlambatan konsumsi domestik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan anggapan turunnya daya beli tidak sejalan dengan data resmi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026.

Menurutnya, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia. Pada periode tersebut, konsumsi rumah tangga berkontribusi sebesar 54,36 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan tumbuh 5,52 persen secara tahunan.

Kinerja tersebut ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen year on year. Dengan capaian itu, pemerintah menilai fundamental ekonomi domestik masih solid dan permintaan masyarakat tetap kuat.

Purbaya menekankan bahwa analisis mengenai daya beli seharusnya didasarkan pada indikator ekonomi yang terukur, bukan sekadar persepsi. Ia juga mengingatkan narasi pesimistis berpotensi memengaruhi kepercayaan pelaku usaha dan memperlambat aktivitas ekonomi.

Meski begitu, pemerintah mengakui sebagian dunia usaha masih merasakan tekanan akibat ketidakpastian global serta sentimen pasar. Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pemerintah berkomitmen memastikan likuiditas sektor keuangan tetap memadai agar akses pembiayaan bagi pelaku usaha berjalan lancar.

IMF Soroti Pelemahan Daya Beli Seychelles

Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat kondisi berbeda terjadi di Seychelles. Berdasarkan data terbaru, PDB Paritas Daya Beli atau Purchasing Power Parity (PPP) negara tersebut pada 2024 berada di level 7,84 unit, turun dari 8,06 unit pada 2023.

Penurunan ini menunjukkan adanya pelemahan kapasitas daya beli masyarakat serta perlambatan ekonomi dibanding tahun sebelumnya. Dalam tiga tahun terakhir, tren PDB PPP Seychelles terus menurun, bahkan pertumbuhan pada 2024 tercatat kontraksi sebesar 2,61 persen.

Baca Juga:  Suku Bunga Deposito BBCA, BMRI, BBNI, BBRI Mei 2026 Pasca Rilis PDB Q1

Secara historis, Seychelles sempat mencatat level tertinggi PDB PPP di angka 8,46 unit pada 2021. Namun setelah itu mengalami koreksi tajam pada 2022 dan belum sepenuhnya pulih hingga 2024.

IMF juga memproyeksikan ekonomi Seychelles masih menghadapi tekanan pada 2025 dan 2026, dengan kontraksi masing-masing 1,29 persen dan 0,18 persen. Kondisi ini mengindikasikan pemulihan ekonomi negara kepulauan tersebut masih berjalan lambat.

Indonesia dan Seychelles Tunjukkan Kondisi Berbeda

Perbandingan dua data tersebut menunjukkan kontras antara ekonomi Indonesia dan Seychelles. Saat Indonesia masih mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang kuat, Seychelles justru menghadapi penurunan daya beli berbasis indikator PPP.

Bagi Indonesia, konsumsi domestik tetap menjadi mesin utama pertumbuhan. Sementara bagi Seychelles, tantangan pemulihan ekonomi dan peningkatan daya beli masih menjadi pekerjaan rumah dalam beberapa tahun ke depan.

Ikuti update pasar, kebijakan fiskal, dan perkembangan global melalui berita ekonomi terbaru yang disajikan setiap hari secara lengkap dan terpercaya.

Simak kabar bisnis, investasi, dan perkembangan ekonomi terbaru hanya di RakyatPress, sumber berita terpercaya setiap hari.