Pabrik Plastik Mulai Kurangi Jam Kerja Hadapi Impor Murah dan Naiknya Harga Gas

Febriolla
A-AA+A++

Pabrik plastik kurangi jam kerja di tengat krisis industri yang semakin dalam. Lonjakan impor bahan baku plastik dari China mencakup berbagai jenis utama seperti polyethylene (PE), polypropylene (PP), polyvinyl chloride (PVC), dan polyethylene terephthalate (PET). Produk-produk tersebut diduga masuk dengan praktik dumping, sehingga terjual jauh lebih murah dari harga pasar yang seharusnya. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengungkapkan hal ini kepada CNBC Indonesia pada Rabu, 8 Juli 2026.

Beberapa perusahaan pabrik telah mulai mengurangi jam operasional untuk menekan biaya produksi. Pola yang sebelumnya menggunakan sistem shift berganda kini berubah menjadi sistem harian biasa. Perubahan ini belum menyebabkan pemutusan hubungan kerja di tingkat hulu, namun dampak sudah terasa di sektor pendukung. Tenaga kerja tidak langsung seperti pekerja bongkar muat, logistik, dan perusahaan jasa pendukung lainnya sudah mengalami pengurangan aktivitas.

Fajar menyatakan kondisi ini bisa terus berlanjut dan berpotensi mencapai tahap pemutusan hubungan kerja jika tidak segera ditangani. Tantangan industri tidak hanya berasal dari membanjirnya produk impor murah. Kenaikan harga gas menjadi faktor tambahan yang memberikan tekanan berat, karena gas merupakan salah satu komponen utama dalam biaya produksi. Kombinasi kedua faktor ini membuat produsen lokal harus mencari cara efisiensi agar tetap bertahan di tengat persaingan yang semakin ketat.

Saat ini, pelaku industri masih mencoba menahan dampak dengan menurunkan tingkat utilisasi pabrik terlebih dahulu. Fajar menjelaskan bahwa utilisasi di industri hilir sebelumnya berkisar antara 60 hingga 65 persen. Jika kondisi terus memburuk, mereka akan menurunkannya di bawah 60 persen sebagai langkah efisiensi awal dengan mengurangi jam kerja. Tahap berikutnya, jika tidak mampu bertahan, baru akan ada pengurangan tenaga kerja atau pekerja didirumahkan, meskipun Fajar berharap hal tersebut tidak sampai terjadi.

Baca Juga:  Inflasi Indonesia April 2026 Melandai, Sektor Transportasi Jadi Pendorong Utama

Masalah terbesar datang dari perubahan kebijakan harga gas. Selama mendapatkan fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), industri plastik mampu mempertahankan daya saing mereka di tengat gempuran produk impor. Dengan harga gas yang murah di level 7 US Dollar, produsen lokal bisa beroperasi pada utilisasi tinggi dan tetap kompetitif.

Situasi berubah drastis setelah pasokan HGBT dibatasi. Produsen lokal kini harus menerima penawaran gas dengan harga yang jauh lebih tinggi. Rata-rata penawaran harga gas telah mencapai di atas 15 hingga bahkan 20 US Dollar. Fajar memperingatkan bahwa jika harga gas tetap ditetapkan pada level 20 US Dollar, ancaman PHK akan semakin dekat. Jika pada bulan berikutnya harga baru diterapkan di atas 15 US Dollar, perusahaan akan terpaksa merumahkan karyawan.

Kenaikan biaya energi ini langsung membebani ongkos produksi. Dampaknya berkisar antara 1 hingga 10 US Dollar per metrik ton, tergantung jenis industri. Beban biaya ini akan menambah harga jual produk dan mengurangi daya saing ketika harga bahan baku sudah sangat fluktuatif.

Perbandingan dengan negara-negara ASEAN menunjukkan ketertinggalan Indonesia. Produsen di negara-negara ASEAN masih menikmati harga gas rata-rata di bawah 9 US Dollar. Perbandingan ini memperjelas mengapa industri dalam negeri semakin sulit bersaing, baik di pasar domestik maupun ekspor. Fajar menekankan bahwa dengan harga gas yang terus membumbung, daya saing manufaktur Indonesia akan terus tergerus dibanding produsen dari China dan negara-negara ASEAN lainnya yang masih menikmati biaya energi lebih rendah.

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *