Penjualan Mobil Indonesia Hampir Tertandingi Malaysia, Apa Penyebabnya?

Susanti
Penjualan Mobil Indonesia Hampir Tertandingi Malaysia (Foto: unsplash/Kenjiro Yagi)
Penjualan Mobil Indonesia Hampir Tertandingi Malaysia (Foto: unsplash/Kenjiro Yagi)
A-AA+A++

Pertumbuhan penjualan mobil di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terlihat cenderung stagnan. Angkanya masih bertahan di bawah 1 juta unit per tahun.

Bahkan, pada tahun 2025, Indonesia hampir disalip oleh Malaysia yang mencatat penjualan sebesar 820.752 unit, sementara Indonesia hanya sedikit lebih tinggi dengan sekitar 833 ribu unit.

Kondisi ini cukup menarik perhatian, mengingat jumlah penduduk Indonesia jauh lebih besar dibandingkan Malaysia. Perbandingan tersebut memunculkan pertanyaan tentang potensi pasar otomotif nasional yang dinilai belum tergarap secara maksimal.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, menilai situasi ini perlu dicermati lebih lanjut. Ia menyebutkan bahwa dalam dua tahun terakhir, penjualan mobil baru di Indonesia hanya bergerak di kisaran 800 ribu hingga 830 ribu unit.

Padahal, Malaysia yang memiliki populasi sekitar 35 juta jiwa mampu mencatat angka penjualan yang hampir setara. Dengan jumlah penduduk yang jauh lebih besar, Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk mendorong pertumbuhan industri otomotif yang lebih signifikan.

Menurut Suwandi, ada dua faktor utama yang menjadi penentu perkembangan industri otomotif. Pertama adalah kondisi ekonomi makro yang perlu terus membaik. Kedua, peningkatan daya beli masyarakat. Kedua aspek ini dinilai sangat berpengaruh dalam mendorong minat konsumen untuk membeli kendaraan baru.

Di sisi lain, industri pembiayaan atau leasing melihat bahwa pasar otomotif Indonesia masih menyimpan potensi yang cukup besar, meskipun dalam dua tahun terakhir pertumbuhannya cenderung terbatas.

Kendaraan bermotor hingga kini masih menjadi kontributor utama bagi industri pembiayaan. Pola pembelian masyarakat pun cenderung bersifat siklus, di mana kendaraan yang dimiliki biasanya akan diganti setelah beberapa tahun, umumnya sekitar lima tahun pemakaian.

Baca Juga:  Menkeu Bantah Daya Beli Turun, IMF Catat Seychelles Justru Alami Pelemahan PPP

Ketika kondisi ekonomi membaik dan daya beli meningkat, masyarakat cenderung lebih cepat untuk mengganti kendaraan lama dengan yang baru, baik mobil maupun sepeda motor.

Pemerintah sendiri terus berupaya mendorong peningkatan konsumsi masyarakat, salah satunya melalui penciptaan lapangan kerja baru. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat daya beli sekaligus memperluas permintaan terhadap pembiayaan kendaraan.

Dengan berbagai upaya tersebut, industri pembiayaan tetap optimistis bahwa pasar otomotif nasional memiliki prospek yang menjanjikan dalam jangka panjang.

Suwandi menegaskan bahwa Indonesia seharusnya mampu mencatat pertumbuhan penjualan kendaraan yang lebih tinggi, mengingat besarnya jumlah penduduk yang dimiliki. Namun, hingga saat ini, potensi tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam angka penjualan.

Ke depan, jika kondisi ekonomi semakin membaik dan daya beli masyarakat meningkat, permintaan kendaraan baru diperkirakan akan ikut terdongkrak dan membawa industri otomotif nasional ke arah yang lebih positif.(****)

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *