Penurunan Uang Tunai Terbukti Nyata, LPEM UI Ungkap Data Penting

Okin
penurunan uang tunai (Foto: Unsplash/bady abbas)
penurunan uang tunai (Foto: Unsplash/bady abbas)
A-AA+A++

Penurunan uang tunai riset LPEM UI menunjukkan transformasi nyata dalam sistem pembayaran Indonesia. Masyarakat semakin meninggalkan kebiasaan membawa uang tunai dan beralih ke metode pembayaran modern dalam kehidupan sehari-hari.

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) baru-baru ini merilis temuan riset yang mengkonfirmasi tren pergeseran pembayaran.

Penelitian yang disusun oleh Jahen F. Rizki dan rekan menunjukkan bahwa porsi uang tunai yang beredar di berbagai negara, termasuk Indonesia sebagai negara berkembang, mengalami penyusutan seiring masifnya kemajuan teknologi pembayaran.

Pada tahun 2023, Bank Indonesia melaporkan data yang mencolok. E-money mendominasi lebih dari 70 persen transaksi ritel di Indonesia, melampaui penggunaan kartu debit dan kredit.

Riset LPEM FEB UI menyimpulkan bahwa setiap kenaikan 1 persen transaksi uang elektronik berkaitan dengan penurunan permintaan uang tunai sebesar 1,7 persen. Angka ini menunjukkan dampak signifikan dari digitalisasi pembayaran terhadap penggunaan uang fisik.

Pengaruh digitalisasi pembayaran tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Penurunan uang tunai jauh lebih kuat terjadi di provinsi-provinsi yang lebih urban dan maju secara digital, terutama di Jawa.

Infrastruktur digital di Jawa sangat padat dengan jaringan agen, terminal merchant, internet stabil, dan konektivitas seluler yang lebih baik dibanding daerah lain.

Keharusan pembayaran elektronik pada jalan tol dan transportasi publik mayoritas terkonsentrasi di Jawa, kondisi ini berhasil membentuk kebiasaan bertransaksi digital secara konsisten setiap hari.

Sebaliknya, infrastruktur yang masih lemah di luar Jawa menyebabkan ketergantungan pada uang tunai tetap tinggi.

Tingkat adopsi pembayaran digital yang rendah di luar Jawa disebabkan oleh penggunaan yang terbatas, menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur menjadi faktor krusial dalam pergeseran ke sistem pembayaran digital.

Baca Juga:  Airlangga: Risiko Resesi Indonesia Hanya Lebih dari 5%, Jauh Lebih Aman dari AS

Efek jaringan mempercepat penggantian uang tunai. Semakin banyak konsumen dan toko yang beralih ke ekosistem digital, semakin tinggi pula kenyamanannya. Mekanisme ini menciptakan siklus yang memperkuat adopsi pembayaran digital di daerah yang sudah memiliki infrastruktur memadai.

Dampak digitalisasi pembayaran terlihat jelas pada setiap pecahan uang kertas. Pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000 mengalami penurunan penggunaan paling tajam karena posisinya langsung digantikan oleh uang elektronik untuk transaksi harian.

Pecahan uang besar kurang terpengaruh karena masyarakat cenderung menyimpannya untuk berjaga-jaga atau menggunakannya dalam transaksi besar dan informal. Uang logam tidak mengalami penurunan signifikan karena tetap menjadi andalan penting untuk transaksi bernilai sangat kecil dan uang kembalian.

Fenomena ini membuktikan bahwa uang elektronik sukses menggeser uang tunai untuk belanja harian, tetapi belum banyak menyentuh transaksi mikro yang bernilai sangat kecil. Temuan ini penting untuk memahami pola perubahan perilaku konsumen Indonesia dalam mengadopsi teknologi pembayaran digital.

Riset LPEM FEB UI memberikan rekomendasi strategis untuk masa depan ekonomi Indonesia yang semakin minim penggunaan uang tunai. Bank Indonesia perlu memasukkan tren pembayaran digital dalam kerangka proyeksi distribusi uang tunai.

Uang elektronik menurunkan permintaan uang tunai dan mempercepat perputaran uang, sehingga penyesuaian ini krusial agar pengelolaan jumlah uang beredar serta stabilitas harga berjalan lebih efektif.

Pemerintah juga perlu mendorong intervensi yang lebih terarah agar digitalisasi lebih inklusif di seluruh negara. Langkah konkret dapat dilakukan dengan memperluas penerimaan QRIS di kalangan pedagang kecil, menurunkan biaya transaksi bernilai kecil, serta mengintegrasikan platform digital.

Rekomendasi ini penting untuk memastikan bahwa manfaat pembayaran digital dapat diakses oleh semua segmen masyarakat, tidak hanya di wilayah urban seperti Jawa.(****)

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *