-Advertisement-

Rupiah Tembus Rp17.500, Level Psikologis Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah

Febriolla
A-AA+A++

Nilai tukar rupiah kembali mencatat sejarah baru. Pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, rupiah sempat menyentuh Rp17.505 per dolar Amerika Serikat. Posisi ini menjadi level terlemah sepanjang masa dan menunjukkan tekanan besar yang masih membayangi pasar keuangan Indonesia.

Pelemahan rupiah kali ini bukan peristiwa baru. Dalam perjalanan sejarahnya, mata uang Indonesia sudah beberapa kali mengalami tekanan hebat akibat krisis global, gejolak politik, hingga keluarnya modal asing dari pasar domestik.

Periode paling berat terjadi saat krisis Asia 1997–1998. Kala itu rupiah jatuh drastis dari kisaran Rp2.500 per dolar AS hingga sempat mendekati Rp16.800. Kondisi ekonomi yang memburuk kemudian berubah menjadi krisis sosial dan politik. Kerusuhan di berbagai wilayah serta pergantian pemerintahan membuat kepercayaan investor turun tajam, sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Setelah memasuki era reformasi, rupiah belum sepenuhnya stabil. Pada 2001, nilai tukar dolar bergerak di kisaran Rp10.500 hingga Rp12.000. Ketidakpastian politik dalam negeri dan tersendatnya kerja sama ekonomi internasional ikut memengaruhi sentimen pasar saat itu.

Tekanan berikutnya datang pada 2008 ketika dunia dilanda krisis finansial global. Kebangkrutan Lehman Brothers di Amerika Serikat memicu kepanikan investor. Dana dari negara berkembang ditarik dan dialihkan ke aset aman seperti dolar AS. Dampaknya, rupiah yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.000-an melemah hingga sekitar Rp12.600 per dolar AS.

Situasi serupa kembali terjadi pada 2015. Saat itu rupiah ditutup di sekitar Rp14.645 per dolar AS. Penyebab utamanya adalah rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS serta perlambatan ekonomi China yang membuat arus modal asing keluar dari pasar berkembang.

Pada 2018, gejolak ekonomi di sejumlah negara berkembang kembali memberi tekanan. Rupiah bahkan sempat menyentuh Rp15.230 per dolar AS seiring investor global kembali mencari aset aman.

Baca Juga:  Inflasi Beras Mei 2026: Harga Eceran Tembus HET & Tips Hemat

Pandemi Covid-19 pada 2020 juga menjadi pukulan besar bagi rupiah. Ketika pasar dunia panik, investor ramai-ramai membeli dolar AS dan melepas aset berisiko. Akibatnya, rupiah melemah tajam hingga menembus Rp16.550 per dolar AS, level terburuk sejak krisis 1998.

Tekanan belum berhenti pada 2024 hingga 2026. Tingginya suku bunga di Amerika Serikat, menguatnya dolar AS, serta ketegangan geopolitik dunia membuat mata uang negara berkembang terus tertekan. Pada April 2026, rupiah sempat menembus Rp17.300 per dolar AS. Sebulan kemudian, rekor baru tercipta di level Rp17.505 per dolar AS.

Ada beberapa faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah saat ini. Mulai dari penguatan dolar AS, suku bunga The Fed yang masih tinggi, konflik geopolitik global, arus modal asing yang keluar dari Indonesia, hingga kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi domestik.

Perjalanan rupiah selama puluhan tahun menunjukkan bahwa nilai tukar sangat dipengaruhi situasi global dan tingkat kepercayaan investor. Saat ketidakpastian meningkat, dolar biasanya menguat dan rupiah ikut tertekan.

Rekor Rp17.505 per dolar AS pada Mei 2026 menjadi pengingat penting bahwa stabilitas ekonomi nasional dan kebijakan yang tepat sangat dibutuhkan agar rupiah kembali menguat di tengah tantangan global.