Gawai sebagai Pengasuh: Ancaman Tersembunyi terhadap Perkembangan Emosi Anak

Febriolla
A-AA+A++

Pemandangan ini mungkin sudah sangat familiar: begitu anak mulai menangis atau rewel di tempat umum, orang tua langsung sigap menyodorkan ponsel. Bukan pelukan, bukan ajakan bicara—tapi layar yang menyala. Cara ini memang manjur, anak biasanya langsung tenang dalam hitungan detik. Tapi di balik kepraktisannya, ada harga yang mungkin baru terasa bertahun-tahun kemudian: anak kehilangan kesempatan untuk belajar menenangkan dirinya sendiri.

Kemampuan ini disebut self-regulation—kesanggupan anak mengenali, mengelola, dan mengendalikan emosi serta perilakunya sendiri, entah saat bosan, marah, kecewa, atau harus menunggu sesuatu yang diinginkan. Yang perlu dipahami, kemampuan semacam ini tidak muncul begitu saja seiring bertambahnya usia. Ia tumbuh dari pengalaman nyata—dari kesempatan yang diberikan orang tua agar anak benar-benar menghadapi emosinya, dengan pendampingan yang tepat di sampingnya.

Justru situasi-situasi kecil yang terasa “tidak nyaman” itulah yang sebenarnya berharga. Saat menunggu makanan datang, anak belajar bahwa tidak semua hal bisa didapat seketika. Saat bosan tanpa hiburan, ia punya ruang untuk mencari sendiri hal-hal yang bisa dilakukan, tanpa buru-buru lari ke layar. Saat marah atau kecewa, ia perlahan belajar mengenali perasaan itu dan menemukan caranya sendiri untuk mereda. Momen-momen sederhana semacam ini adalah bahan baku dari regulasi emosi yang sehat.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua di sini cukup beragam: sebagai motivator, fasilitator, pembimbing, sekaligus pendidik. Wujudnya bisa berupa obrolan langsung, atau upaya membantu anak memahami emosi negatif yang sedang ia rasakan. Tujuannya bukan sekadar menghentikan tangisan atau amukan, melainkan membantu anak mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan, dan mengapa perasaan itu muncul.

Masalahnya, ketika setiap rasa tidak nyaman langsung “diselesaikan” lewat distraksi digital, ruang untuk berlatih self-regulation makin menyempit. Anak jadi jarang punya kesempatan membuktikan pada dirinya sendiri bahwa rasa bosan bisa dilewati, kekecewaan bisa diterima, dan kemarahan bisa dikelola tanpa harus buru-buru dialihkan. Lama-lama, ia terbiasa dengan satu pola: begitu ada perasaan yang tidak enak, perasaan itu harus segera hilang—dengan cara apa pun.

Baca Juga:  Kesadaran Lingkungan vs Belanja Impulsif: Dilema Generasi Muda

Di sinilah ada perbedaan penting yang sering luput dari perhatian: menenangkan anak itu berbeda dengan membantu anak belajar menenangkan diri sendiri. Menenangkan anak bisa berarti duduk bersamanya, mendengarkan keluhannya, memberi nama pada emosi yang ia rasakan, menjelaskan dari mana perasaan itu datang, atau sekadar menemani sampai badai emosinya reda. Cara ini memang tidak selalu langsung membuat anak diam dalam sekejap—tapi justru di situlah letak pengalaman berharga yang sesungguhnya ia butuhkan.

Dalam jangka panjang, persoalannya bukan sekadar berapa lama anak main gawai, melainkan untuk apa gawai itu digunakan—apakah sebagai alat bantu sesekali, atau sebagai “pengatur emosi” utama. Ketika orang tua ikut membantu anak memahami perasaan negatifnya dan merespons dengan tepat, anak mendapat kesempatan bertahap untuk belajar mengelola emosinya sendiri. Pengasuhan di era digital, pada akhirnya, bukan sekadar soal menghentikan perilaku yang dianggap mengganggu, melainkan membantu anak memahami apa yang ada di balik perilaku dan perasaannya.

Tentu saja, memberi anak ponsel sesekali bukan berarti seseorang jadi orang tua yang buruk. Tantangan pengasuhan di era digital bukanlah soal melarang gawai sama sekali. Tantangan sesungguhnya adalah menempatkan teknologi pada porsinya yang wajar—sebagai alat yang dipakai saat benar-benar dibutuhkan, bukan sebagai “pengasuh cadangan” yang selalu siap sedia setiap kali anak bosan, marah, kecewa, atau merasa tidak nyaman.

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *