Memasuki bulan Juni, anak-anak di Indonesia memasuki musim libur sekolah anak yang panjang bersamaan dengan pergantian tahun akademik. Orangtua kembali menghadapi pertanyaan yang sama setiap tahunnya: aktivitas apa yang paling tepat untuk libur sekolah anak selama periode tersebut? Terutama bagi keluarga yang tetap tinggal di rumah atau bekerja selama masa liburan.
Dr. Dyah T. Indirasari, M.A., Psikolog dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, memberikan panduan praktis untuk menjawab dilema ini. Menurutnya, libur sekolah anak harus dirancang untuk menyeimbangkan kebutuhan anak dari perspektif biologis dan psikologis. Anak-anak memerlukan waktu pemulihan setelah menjalani aktivitas akademik yang intensif selama hampir satu tahun penuh.
Pendekatan yang disarankan Dyah dapat dibagi menjadi beberapa tahap selama periode libur. Minggu pertama sebaiknya difokuskan pada istirahat dan pemulihan. Anak perlu tidur cukup, bermain tanpa beban, dan bersantai sesuka hati. Fase ini bukan berarti pemborosan waktu melainkan investasi penting untuk menyeimbangkan kondisi mental dan emosional mereka dari segi biologis maupun psikologis.
Setelah periode istirahat awal, minggu-minggu berikutnya dapat diisi dengan eksplorasi minat dan hobi. Waktu yang tersedia selama libur memberikan kesempatan emas bagi anak untuk mencoba hal-hal baru yang selama ini belum sempat dilakukan. Aktivitas eksplorasi ini membantu anak menemukan apa yang benar-benar mereka sukai dan kuasai, sehingga meningkatkan motivasi intrinsik mereka. Anak bisa lebih mengetahui apa yang mereka sukai dan bisa kuasai dengan pengalaman langsung.
Pakar kognitif ini menekankan bahwa pembelajaran tetap bisa menjadi bagian dari libur sekolah, namun harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan tanpa tekanan. Jika anak melanjutkan les atau kursus, aspek penting adalah memastikan mereka tidak merasa terbebani. Orangtua perlu memantau kondisi emosional anak agar libur tetap menjadi momen yang positif bagi perkembangan mereka.
Belajar selama libur juga tidak harus terbatas pada buku pelajaran sekolah. Dyah menyarankan orangtua memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran alternatif yang menarik. Mengunjungi museum dan lokasi edukatif lainnya, menonton film, membaca novel, atau berbagai aktivitas keluarga lainnya dapat memberikan nilai pembelajaran yang berkesan tanpa terasa seperti pekerjaan sekolah formal.
Dimensi yang sering terabaikan adalah penguatan hubungan keluarga selama libur. Momen libur sekolah menawarkan kesempatan berharga untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga. Saat anak sedang menjalani aktivitas akademik, anggota keluarga sering disibukkan oleh rutinitas masing-masing karena kesibukan. Libur adalah periode ketika waktu dapat dialokasikan lebih khusus untuk memperkuat ikatan emosional dan relasi antar anggota keluarga yang mungkin pada saat sekolah sulit dilakukan.
Dengan pendekatan yang seimbang antara istirahat, eksplorasi minat, pembelajaran yang menyenangkan, dan penguatan hubungan keluarga, libur sekolah anak dapat menjadi periode yang bermakna bagi perkembangan holistik anak tanpa menimbulkan stress atau kelelahan tambahan. Strategi ini tidak hanya memberi anak kesempatan untuk beristirahat secara mental, tetapi juga untuk berkembang melalui pengalaman baru dan memperkuat hubungan dengan orang-orang terdekat.








Tidak ada Respon