Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menghadapi tantangan berkelanjutan dari pendaftar seleksi beasiswa yang menyertakan sertifikat bahasa Inggris palsu.
Pada penyelenggaraan seleksi sebelumnya, institusi ini menemukan banyak pelamar yang tidak jujur dalam dokumen bahasa Inggris mereka. Beberapa di antaranya memanipulasi nilai dengan menaikkan skor hingga tidak sesuai dengan catatan resmi.
Andar Ramona, Kepala Divisi Rekrutmen dan Seleksi Beasiswa LPDP, menjelaskan permasalahan ini saat sosialisasi beasiswa tahap 2 untuk tahun 2026 pada 3 Juli melalui acara webinar.
Menurutnya, baik sertifikat yang dibuat palsu maupun nilai yang direkayasa merupakan pelanggaran serius yang tidak dapat ditoleransi. LPDP memverifikasi setiap dokumen terhadap database resmi untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian.
LPDP mengharapkan semua calon penerima beasiswa menjunjung tinggi integritas pribadi. Institusi ini mengajak seluruh pemuda Indonesia yang bercita-cita menjadi pemimpin bangsa untuk berkomitmen pada kejujuran.
Pesan yang disampaikan jelas: jangan mencoba memanipulasi dokumen dengan alasan apa pun. Integritas adalah fondasi yang harus dipegang teguh oleh semua pendaftar.
Konsekuensi bagi pembuat sertifikat palsu sangat berat. Pelamar yang terbukti melakukan tindakan kecurangan akan langsung dinyatakan gugur dari seluruh tahapan seleksi LPDP.
Mereka akan dimasukkan ke daftar blokir permanen dan tidak diizinkan mendaftar lagi di masa mendatang. Tindakan tegas ini dimaksudkan untuk menjaga integritas seluruh program beasiswa dan mencegah praktik tidak jujur berlanjut.
Untuk memudahkan pendaftar mendapatkan sertifikat dengan cara yang sah, LPDP menambah opsi tes bahasa Inggris pada tahap 2 tahun 2026.
Institusi kini bermitra dengan 35 perguruan tinggi yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Penambahan tersebut dirancang untuk mengurangi beban biaya dan jarak tempuh bagi pelamar yang ingin memperoleh sertifikat resmi.
Fasilitas tes di kampus-kampus ini diharapkan lebih terjangkau dibandingkan mengikuti ujian di lembaga internasional.
Dengan lebih banyak pilihan yang mudah diakses, LPDP berharap pelamar tidak lagi tergoda untuk membuat dokumen palsu atau memanipulasi hasil tes. Mereka dapat memperoleh sertifikat asli dengan cara yang jauh lebih praktis dan ekonomis.
Ramona juga mengingatkan pentingnya memperhatikan jenis tes yang akan diambil. Beberapa perguruan tinggi partner mungkin menyelenggarakan berbagai varian tes bahasa Inggris.
Oleh karena itu, pelamar harus memastikan mereka mengikuti English Proficiency Test sesuai dengan standar yang ditetapkan LPDP. Hanya jenis tes tertentu yang akan diterima sebagai bagian dari berkas aplikasi seleksi.
LPDP mengharapkan dengan adanya kemudahan akses tes di 35 kampus, calon pendaftar akan menjalani proses yang lebih transparan dan jujur.
Ketersediaan opsi lokal ini seharusnya menghilangkan alasan untuk mencari jalan pintas atau dokumen palsu. Setiap pelamar memiliki kesempatan yang sama untuk membuktikan kemampuan bahasa Inggris mereka secara autentik.
Ramona mengungkapkan kekhawatiran bahwa jejak kemitraan belum merata di seluruh kepulauan. Hingga saat ini belum ada perguruan tinggi partner yang berada di Maluku dan Papua.
Dia berharap ke depan distribusi fasilitas ini dapat mencakup daerah-daerah tersebut sehingga semua calon pelamar dari setiap wilayah Indonesia memiliki akses yang adil dan setara dalam proses seleksi beasiswa.(***)








Tidak ada Respon