Pemerintah Rancang Pembaruan Buku Pelajaran SD hingga SMA

Susanti
A-AA+A++

Pemerintah sedang menyiapkan pembaruan buku pelajaran untuk jenjang SD hingga SMA setelah Presiden Prabowo Subianto menelaah langsung buku cetak yang digunakan para siswa. Pemeriksaan tersebut mengungkap sejumlah persoalan mutu yang perlu segera ditangani.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan bahwa Presiden menemukan dua masalah utama. Pertama, ukuran huruf dalam buku dinilai terlalu kecil sehingga siswa, terutama murid SD, harus membaca dengan jarak yang sangat dekat. Kedua, kualitas bahan buku tergolong rendah. Beberapa buku bahkan sudah mengalami kerusakan. Prabowo memeriksa setiap buku secara cermat untuk mengidentifikasi kekurangan sekaligus merumuskan langkah perbaikannya. Informasi tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi Sekretariat Kabinet pada Senin, 10 Agustus 2026.

Sebagai tindak lanjut, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemerintah meminta penyusunan buku tulis khusus bagi siswa SD kelas 1 hingga 3. Buku tersebut akan menggunakan garis yang lebih lebar agar siswa terbiasa menulis dengan ukuran huruf yang lebih proporsional. Menurut Prasetyo, kecenderungan anak-anak menulis dengan huruf berukuran sangat kecil kini semakin terlihat.

Gagasan tersebut bukanlah ajakan untuk kembali pada kebiasaan lama tanpa mempertimbangkan perubahan zaman. Prasetyo menegaskan bahwa sejumlah negara maju, termasuk beberapa negara Eropa, mulai mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai. Mereka kembali mendorong penggunaan buku fisik dan aktivitas menulis tangan. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi dampak ketergantungan pada teknologi sekaligus memperkuat rasa percaya diri siswa. Tulisan tangan, rupanya, belum kehilangan tempatnya.

Pembaruan buku pelajaran menjadi bagian dari perhatian Presiden Prabowo terhadap sejumlah bidang strategis dalam pendidikan. Prasetyo menyampaikan bahwa Kepala Negara memberi perhatian khusus pada penguatan karakter kebangsaan. Presiden juga menekankan perlunya peningkatan mutu pembelajaran sains dan teknologi, serta penguasaan bahasa asing untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan internasional.

Baca Juga:  Wacana Bahasa Perancis dan Portugis di Sekolah, Peluang Baru atau Tambahan Beban?

Pada bidang sains dan teknologi, pemerintah menilai bahwa sejumlah ketertinggalan masih perlu dikejar. Penguatan pembelajaran matematika menjadi salah satu landasan utama untuk mencapai sasaran tersebut. Sementara itu, dalam menghadapi persaingan global, kemampuan bahasa asing, terutama bahasa Inggris, ditetapkan sebagai prioritas dalam pengembangan kurikulum dan bahan ajar pada masa mendatang. Fondasinya harus diperkuat sejak bangku sekolah.

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *