Self Reward Ala Gen Z: Makanan Jadi Pilihan Utama Ketimbang Belanja Barang

Okin
A-AA+A++

Fenomena Gen Z yang memilih makanan sebagai bentuk self reward ini sebenarnya bukan sekadar tren sesaat, melainkan cerminan dari perubahan nilai dan prioritas generasi muda dalam memaknai “kebahagiaan”. Jika generasi sebelumnya mungkin mengasosiasikan kesuksesan dengan kepemilikan barang bermerek atau aset bernilai tinggi, Gen Z tampak lebih memilih pengalaman yang bisa dinikmati secara instan dan personal, salah satunya lewat kuliner. Makanan dianggap mampu memberikan kepuasan emosional yang cepat, tanpa harus menunggu lama atau mengeluarkan biaya besar, sehingga menjadikannya pilihan yang realistis di tengah keterbatasan finansial banyak anak muda.

Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada ini pun tidak berhenti hanya pada pengumpulan data kuantitatif. Mereka juga berupaya memahami konteks psikologis dan sosial di balik kecenderungan tersebut. Anggita Rasya Ananta, salah satu anggota tim, menekankan bahwa penelitian ini berangkat dari keinginan untuk melihat self-reward bukan sebagai perilaku yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari rangkaian keputusan finansial yang lebih luas. Menurutnya, setiap kali seseorang memutuskan untuk “memanjakan diri”, di situ pula tersembunyi proses pertimbangan antara kepuasan sesaat dan konsekuensi jangka panjang terhadap kondisi keuangan pribadi.

Pendekatan intertemporal choice yang digunakan dalam penelitian ini menjadi kunci untuk membedah dilema tersebut. Konsep ini pada dasarnya menyoroti bagaimana manusia cenderung memberikan bobot lebih besar pada kepuasan yang bisa dirasakan saat ini dibandingkan manfaat yang baru akan dirasakan di masa depan, seperti tabungan atau investasi. Dalam konteks Gen Z, kecenderungan ini terlihat jelas ketika mereka lebih memilih membelanjakan uang untuk makanan enak yang bisa langsung dinikmati, ketimbang menahan diri demi tujuan finansial jangka panjang yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian.

Baca Juga:  Gawai sebagai Pengasuh: Ancaman Tersembunyi terhadap Perkembangan Emosi Anak

Menariknya, riset ini juga menyoroti bagaimana ekosistem digital turut membentuk perilaku tersebut secara tidak langsung. Media sosial yang dipenuhi konten kuliner, ulasan makanan, hingga rekomendasi tempat makan viral, menciptakan semacam tekanan sosial halus yang membuat seseorang merasa perlu “ikut mencoba” demi validasi atau sekadar mengikuti tren. Ditambah dengan kemudahan platform pesan-antar makanan yang tinggal beberapa kali sentuhan layar, jarak antara keinginan dan tindakan pembelian menjadi semakin tipis. Faktor-faktor ini pada akhirnya memperkuat pola self-reward berbasis makanan sebagai kebiasaan yang sulit dihindari, bahkan oleh mereka yang sebenarnya sadar akan pentingnya mengelola keuangan dengan baik.

Temuan bahwa literasi keuangan tidak serta-merta mencegah perilaku impulsif juga membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai pendekatan edukasi finansial selama ini. Selama ini, edukasi keuangan kerap difokuskan pada pemberian informasi dan pengetahuan teoretis, seperti cara menyusun anggaran atau pentingnya menabung. Namun, penelitian ini mengindikasikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk mengubah perilaku, terutama ketika berhadapan dengan dorongan emosional dan godaan yang datang secara masif melalui teknologi digital. Dengan kata lain, dibutuhkan pendekatan yang lebih menyentuh aspek psikologis dan kebiasaan, bukan sekadar transfer pengetahuan semata, agar generasi muda dapat mengambil keputusan finansial yang lebih seimbang antara kepuasan diri dan kestabilan keuangan jangka panjang.

Ke depannya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan, baik bagi akademisi, pembuat kebijakan, maupun industri, dalam merancang program edukasi keuangan yang lebih relevan dengan karakter dan kebiasaan Gen Z. Pemahaman yang lebih dalam mengenai motivasi di balik perilaku self-reward juga dapat membantu berbagai pihak, termasuk platform digital dan penyedia layanan keuangan, untuk turut mendorong kebiasaan konsumsi yang lebih sehat tanpa harus menghilangkan esensi self-reward itu sendiri sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *