Perumahan Laddaland: Teror Psikologis dan Mimpi Buruk KPR di Film Horor Terbaru Awi Suryadi

Febriolla
Sumber: YouTbe CINEMA 21
A-AA+A++

Laddaland, film horor terbaru garapan MD Pictures, disutradarai oleh Awi Suryadi dengan skenario ditulis oleh Lele Laila. Film ini merupakan remake resmi dari Laddaland versi Thailand (2011) karya Sophon Sakdaphisit, yang dulu sempat membekas cukup dalam di kancah perfilman Asia Tenggara. Versi terbaru ini mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia sejak 13 Agustus 2026, termasuk di Cinema XXI, CGV, dan Cinépolis.

Andri Mashadi berperan sebagai Tomy, sosok kepala keluarga yang jadi poros cerita. Titi Kamal memerankan sang istri, sementara Anantya Kirana dan Shakeel Fauzi Aisy berperan sebagai anak-anak mereka. Cerita bermula saat Tomy nekat mengambil KPR untuk memboyong keluarganya ke sebuah kompleks perumahan elite bernama Laddaland — semua demi memberi kehidupan yang lebih baik buat orang-orang tercinta.

Di awal, semuanya tampak indah. Rumah baru, lingkungan asri, hidup yang terasa tenang. Tapi semua berubah setelah Eneng, asisten rumah tangga mereka, ditemukan tewas dengan cara yang tak jelas sebabnya. Sejak saat itu, keanehan demi keanehan mulai bermunculan — bisikan-bisikan misterius di sudut rumah, penampakan yang datang berulang kali, tetangga yang bersikap janggal, hingga hubungan dalam keluarga yang mulai retak.

Berbeda dari film-film horornya terdahulu, kali ini Awi Suryadi memilih jalur yang lebih menekankan teror psikologis ketimbang mengandalkan nuansa religi yang kental. Yang jadi sorotan justru tekanan batin para tokoh, keluarga yang perlahan hancur, serta beban cicilan KPR — sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat urban Indonesia sekarang. Titi Kamal sendiri menyebut film ini seperti “ujian mental” buat penonton, karena ketegangannya dibangun pelan-pelan dan terus-menerus, bukan sekadar mengandalkan jump scare dadakan.

Baca Juga:  Haru-Biru, Novel Bahruddin Bekri Tentang Cinta dan Pengorbanan

Akting Andri Mashadi sebagai Tomy terasa meyakinkan — memperlihatkan sosok pria yang terjepit antara tekanan pekerjaan, utang yang menumpuk, dan teror gaib yang tak kunjung reda. Titi Kamal pun tampil wajar sebagai istri yang cemas namun tetap berusaha tegar. Sementara itu, Anantya Kirana dan Shakeel Fauzi Aisy cukup berhasil menangkap sudut pandang anak-anak yang merasa asing di rumah baru mereka. Sentuhan jump scare khas Awi Suryadi pun masih terasa efektif, terutama bagi penonton yang sudah akrab dengan gaya penyutradaraannya.

Meski begitu, ada beberapa catatan. Suasana perumahan dalam film ini belum sepenuhnya terasa seperti Indonesia — masih ada nuansa “asing” yang kental. Sejumlah elemen cerita yang diambil mentah-mentah dari versi Thailand pun terasa kurang pas ketika dipindahkan ke konteks lokal. Ditambah lagi, misteri kematian Eneng tidak dijelaskan dengan tuntas, sehingga meninggalkan sejumlah pertanyaan yang menggantung.

Salah satu adegan paling menegangkan adalah ketika Tomy mencari Elvin yang tiba-tiba menghilang. Ia menyusup ke sebuah rumah di kompleks itu dan membuka kulkas, berharap menemukan anaknya di sana. Alih-alih itu, yang ia temukan justru jasad Eneng yang sudah membusuk. Pintu kulkas yang tiba-tiba terbuka disertai suara mencekam sukses membuat penonton menahan napas.

Namun yang paling membekas dari film ini sebenarnya bukan sosok hantu yang menampakkan diri, melainkan keretakan hubungan keluarga yang terasa begitu nyata. Ketika tekanan finansial, konflik orang tua-anak, dan teror gaib berpadu jadi satu, Laddaland menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar kengerian visual. Perpaduan drama keluarga dan horor supernatural ini membuat film tetap layak ditonton, terutama untuk mereka yang mencari horor dengan kedalaman lebih, bukan cuma kejutan sesaat.

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *