Kelas Menengah Indonesia Menurun: 9,48 Juta Orang Jatuh Miskin

Okin
Kelas Menengah Indonesia Menurun 9,48 Juta Orang Jatuh Miskin (Foto: unsplash/Alex Hudson)
Kelas Menengah Indonesia Menurun 9,48 Juta Orang Jatuh Miskin (Foto: unsplash/Alex Hudson)
A-AA+A++

Kelas menengah Indonesia menurun dengan signifikan dalam lima tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan populasi kelompok ini menyusut dari 57,33 juta orang pada tahun 2019, yang merepresentasikan 21,45% dari total penduduk, menjadi hanya 47,85 juta orang atau 17,13% pada tahun 2024.

Berarti sekitar 9,48 juta orang telah keluar dari kategori kelas menengah dalam periode tersebut.

Pada waktu yang sama, kelompok kelas menengah rentan atau aspiring middle class justru mengalami pertumbuhan. Jumlahnya meningkat dari 128,85 juta orang (48,20%) pada 2019 menjadi 137,50 juta orang (49,22%) pada 2024.

Demikian pula kelompok rentan miskin berkembang dari 54,97 juta orang (20,56%) menjadi 67,69 juta orang (24,23%) dalam periode yang sama. Pola ini menunjukkan perpindahan signifikan dari kelas menengah ke strata ekonomi yang lebih rendah.

Kategori Tahun 2019 Tahun 2024
Kelas Menengah 57,33 juta (21,45%) 47,85 juta (17,13%)
Kelas Menengah Rentan 128,85 juta (48,20%) 137,50 juta (49,22%)
Rentan Miskin 54,97 juta (20,56%) 67,69 juta (24,23%)

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa fenomena ini masih menunjukkan efek jangka panjang dari pandemi Covid-19 terhadap ketahanan kelas menengah.

Kondisi tersebut terlihat juga dari pola pengeluaran rata-rata kelas menengah yang semakin mendekati batas bawah kategorinya, menyulitkan mereka untuk naik ke strata lebih tinggi dan membuat mereka rentan jatuh ke kelompok aspiring middle class atau bahkan kelompok rentan miskin.

Data dari BPS menunjukkan batas pengelompokan kelas menengah pada 2024 berkisar antara Rp 2,04 juta hingga Rp 9,90 juta per kapita per bulan. Batas bawah kelompok menengah adalah 3,5 kali garis kemiskinan sebesar Rp 582.932 per bulan, sementara batas atasnya mencapai 17 kali dari nilai tersebut.

Baca Juga:  Daftar Saham LQ45 Terbaru Mei–Juli 2026, Ini 5 Emiten Masuk dan 5 Keluar

Modus pengeluaran rata-rata kelas menengah mencapai Rp 2,05 juta pada 2024, yang hanya Rp 10.000 lebih tinggi dari batas bawah kategori mereka. Sebaliknya, pada 2014, modus pengeluaran mencapai Rp 1,70 juta dengan batas bawah Rp 1,05 juta dan batas atas Rp 5,14 juta.

Jarak yang semakin sempit ini menunjukkan marjin keamanan finansial yang jauh lebih tipis bagi kelompok kelas menengah saat ini.

Ekonom senior dan mantan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengidentifikasi beberapa faktor yang menyebabkan penurunan ekonomi kelas menengah, melampaui sekadar dampak pandemi dan pengurangan tenaga kerja.

Salah satu faktor yang jarang diperhatikan adalah kebiasaan konsumsi air kemasan dalam jumlah besar, termasuk air galon dan air botol. Menurut Brodjonegoro, pengeluaran rutin untuk air kemasan telah menggerus pendapatan kelas menengah secara signifikan tanpa disadari oleh masyarakat.

Brodjonegoro menekankan bahwa kebiasaan mengkonsumsi air dalam kemasan tidak terjadi di semua negara. Di negara-negara maju, warga kelas menengah dapat mengakses air minum berkualitas yang disediakan pemerintah di tempat-tempat umum, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk pembelian air kemasan.

Akibatnya, daya beli kelas menengah di negara maju terlindungi karena pengeluaran dasar untuk air diminimalkan. Dengan sistem penyediaan air minum massal dari pemerintah, masyarakat negara maju tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak untuk kebutuhan dasar ini.

Namun, Brodjonegoro juga mengakui bahwa konsumsi air kemasan hanyalah salah satu dari berbagai faktor yang berkontribusi pada penurunan kelas menengah Indonesia. Dia mengidentifikasi pandemi Covid-19 sebagai penyebab utama, mengingat data mengalami perubahan signifikan antara 2019 dan 2024.

Kombinasi dari dampak pandemi, inflasi, kebiasaan pengeluaran harian yang tidak terkontrol, dan menurunnya ketahanan ekonomi keluarga membuat kelas menengah Indonesia semakin terpuruk ke dalam kategori ekonomi yang lebih rendah.(***)

Pos Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *